Sharing is Caring | Simple Share™ Berbagi Informasi yang Positif | SEO, Tips, Tutorial, Resensi, Review, Cerita Kehidupan Simple Share™

Jumat, 28 Oktober 2011

Seberkas Cahaya di Palestina (4/14)

” Bagaimana persiapanmu  Mad? Tiket ngga lupa? Visa? Yakin ngga perlu uang rupiah disamping  dollar ?”, berondong ibu.
“ Kayaknya udah beres semua deh… “, jawabku sambil mencoba mengingat-ingat segala keperluanku.
Ibu nyusul langsung ke airport aja  ya… sori, ibu bener-bener ngga bisa ninggalin urusan ibu”, mohon ibu dengan suara menyesal.

Ngga apa bu, Mada ngerti koq. Yang penting doain aja semoga semua urusan beres “,   kataku memaklumi ibu seperti biasa..
“ Tante denger dari beberapa  teman, katanya masuk Yerusalem ngga gampang lho..”, sambung tante Rani  yang dari tadi menemaniku sarapan.. “ malah ada yang ditolak tanpa sebab yang jelas”, katanya meneruskan..
” Ngga’ lah tan, tenang aja… katanya biasanya cuma   Muslim aja koq  yang dipersulit”, kataku menenangkan.
Beberapa jam kemudian dengan diantar tante Rani dan Lukman, aku tiba di airport Cengkareng. Ayah tidak mengantar karena sedang ke luar kota. Tapi tadi sepuluh menit sebelum kami meninggalkan rumah ayah sempat menelpon. Ia berpesan agar aku berhati-hati selama berada di negri orang. Akan halnya ibu, aku tidak berharap terlalu banyak ia dapat menyusul karena seperti biasa ibu  pasti terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak mungkin sempat menyusul ke airport.
Namun ternyata dugaanku kali ini salah. Ibu muncul beberapa detik sebelum aku boarding. Dengan berlari kecil ibu berteriak memanggilku sambil melambai-lambaikan tangannya. Kamipun berpelukan. Bahagia aku rasanya ternyata ibu masih menyempatkan memikirkan diriku. “ Ati-ati nak ya, jangan ikut-ikut kegiatan yang membahayakan dirimu. Kamu disana  sendiri lho, kalau ada apa-apa ngga ada yang bisa dimintai tolong….janji ya?”, ujar ibu menasehatiku. Aku terharu. Seingatku ibu tidak pernah begitu mengkhawatirkan diriku seperti hari ini.
Pesawat Royal Jordan, sebuah maskapai penerbangan milik pemerintah Yordania jurusan Amman, Yordania   yang kutumpangi, lepas landas sesuai dengan jadwal. Untuk tiba di Yerusalem masih harus mengendarai kendaraan selama kurang lebih 1 jam menuju perbatasan Israel. Memang tidak banyak pilihan untuk pergi menuju negri yang penuh masalah tersebut. Rencananya dari Amman  aku akan dijemput oleh seseorang. Dari sana aku akan diantar langsung menuju Yerusalem untuk tinggal di rumah seorang keluarga dokter. Keluarga inilah akan menjadi keluargaku selama 3 minggu aku berada disana.
Aku masih diseliputi keheranan akan sikap ibu. Tiba-tiba aku merasa jangan-jangan ibu mendapat firasat  buruk terhadap perjalananku ini. Lukman sering menasehati agar aku mencoba memperbaiki hubungan dengan ibu. Karena menurut ajarannya kesuksesan seseorang itu amat tergantung dengan  hubungan anak dengan kedua orang-tuanya terutama ibu. Ia  tahu bahwa hubungan kami tidak terlalu baik. Aku memang pernah  mengeluhkan sikap ibu yang cuek sehingga aku merasa ibu tidak menyayangiku atau bahkan mungkin aku ini cuma anak pungut, begitu keluhku.
Seorang ibu dimanapun berada tidak mungkin tidak menyayangi anaknya”, begitu kata  Lukman. “Mungkin ibumu hanya terlalu sibuk aja Mad, jangan pernah suu’dzon gitu ah… ngga’ baik”, tambahnya.  Tanpa kusadari maka akupun segera  berdoa sebisaku. Aku berharap semoga aku masih bisa berjumpa dengan ibuku dan memperbaiki hubungan kami.
***
Sekitar pukul 10 pagi keesokan harinya aku telah berada di bandara Queen Alia, Amman. Di ruang kedatangan aku dikejutkan oleh banyaknya pengunjung berwajah khas Melayu. Dari pembicaraan ternyata mereka memang dari Indonesia dan Malaysia. Mereka datang dari bandara Jedah setelah selesai menunaikan ibadah umrah di Mekah. Tujuan mereka adalah mengunjungi  Masjidil Aqsho di Yerusalem. Kebanyakan mereka baru sekali ini datang ke tempat tersebut. Dari mereka aku tahu bahwa masjid tersebut adalah masjid ketiga terpenting bagi umat Islam  setelah  Masjidil Haram di Mekah dan  Masjid Nabawi di Madinah. Karena dari masjid tersebutlah nabi mereka, nabi Muhammad melakukan perjalanan ke langit menuju Tuhannya. Aku kembali teringat pada presentasiku ketika aku masih di bangku SMA beberapa tahun yang lalu.
Beberapa lama kemudian, setelah urusan keimigrasian selesai , aku celingukan mencari penjemputku. Tak lama  aku melihat spanduk bertuliskan namaku. Akupun  segera menghampirinya  dan memperkenalkan diriku. Diluar perkiraanku, ternyata yang menjemputku adalah anak keluarga yang akan kutumpangi selama aku berada di Yerusalem nanti.
”Hey, nice to meet you. I’am Benyamin.”, dengan  ramah  ia memperkenalkan dirinya  “ From now on,  you will be my brother… Wellcome, brother..”, tambahnya. Kemudian ia memperkenalkan supir sekaligus guide-nya, yang bernama Karim.” Nice to meet you too”, jawabku.
Benyamin seorang pemuda berperawakan  jangkung yang ramah dan menyenangkan. Aku perkirakan ia seumur denganku. Dengan penuh semangat ia menceritakan bahwa ia lahir dan dibesarkan di Yerusalem. Itu sebabnya  selama dalam perjalanan ia lancar menceritakan kota kelahirannya ini.
Tak sampai 1 jam kemudian kamipun memasuki perbatasan antara Yordania dan Israel. Benyamin mengingatkanku  untuk tidak mengambil gambar baik foto maupun video. Ia mengisyaratkan dengan dagunya bahwa menara-menara  tinggi yang banyak berada di sepanjang jalan yang kami lalui adalah pos-pos militer Zionis yang mengawasi gerak gerik setiap orang yang melalui wilayah tersebut. ”Mereka siap menghentikan dan merampas kamera orang yang berani-beraninya mengambil gambar di wilayah tersebut. Bahkan bila harus menembak mereka akan selalu siap melakukannya! ”, begitu katanya dengan nada sinis. Terdengar jelas rasa antipatinya terhadap pemerintah yang disebutnya sebagai pemerintah pendudukan Zionis itu.
Ia bercerita, dulu ketika orangtuanya  masih muda kota Yerusalem adalah kota yang damai. Penduduknya rukun dan damai. walaupun agama mereka berbeda. Mereka saling menghargai dan mengasihi. Keluarga Benyamin sendiri adalah penganut Nasrani yang taat. Ia menyebut dirinya sebagai warga Arab. Penduduk kota tersebut memang  dibedakan antara warga Arab dan warga Yahudi. Warga Arab ada yang beragama Nasrani ada yang beragama Islam sementara warga Yahudi hampir dapat dipastikan beragama Yahudi. Namun mereka semua bersatu dibawah bendera Palestina.
Ketika akhirnya pecah perang Arab-Israel pasca penyerahan tanah tersebut dari Inggris kepada Zionis Yahudi pada 1947, banyak rakyat Palestina yang terpaksa mengungsi dan pergi meninggalkan tanah airnya menuju Yordania dan negri-negri di sekitarnya. Sementara itu orang-orang Yahudi Palestina banyak yang dipaksa berpihak kepada Zionis Yahudi demi mendapatkan  tanah untuk ditinggali etnis dan kepentingan agama mereka sendiri.
Banyak keluargaku yang dipaksa pergi meninggalkan rumah dan kampung kelahiran mereka. Bahkan hingga saat inipun mereka tetap tinggal dalam kamp pengungsi yang keadaannya sangat menyedihkan. Mereka itu beranak pinak dalam keadaan amat miskin dan hidup amat mengenaskan. Padahal banyak diantara mereka yang ketika masih  di Palestina hidup berkecukupan. Malah ada adik ibuku yang tadinya adalah seorang dokter ternama yang kaya raya dan terhormat ikut menjadi korban. Bahkan hingga saat ini ayah dan ibuku tidak pernah tahu akan keberadaan mereka”, jelas Benyamin sedih.
Benyamin juga menceritakan betapa sadisnya cara Zionis mengusir warga Arab dari tanah Palestina. Beberapa perkampungan di pinggir pantai dijadikan proyek percontohan. Dengan cara provokatif para perempuan diperkosa didepan anggota keluarganya, rumah-rumah dibakar. Kemudian penduduknya diusir dan dipaksa pergi berjalan menuju  pantai untuk kemudian ditembaki dari belakang!
Berbekal pengalaman buruk yang sengaja terus diceritakan orang-orang Yahudi dan juga dari mulut ke  mulut penduduk itu sendiri,  akhirnya membuat hampir seluruh  penduduk tanah tersebut tanpa perlawanan pergi meninggalkan rumah mereka sendiri. Di bawah todongan senjata tanpa membawa sepeserpen uang dan bekal mereka berbondong-bondong berjalan ratusan bahkan ribuan mil menuju negara tetangga. Kalaupun ada sebagian rakyat yang memberontak mereka harus menghadapi pertempuran yang sama sekali tidak seimbang.
Bayangkan”, kata Benyamin emosi. ” Senjata mutakhir super canggih yang didatangkan dari Amerika Serikat harus dilawan senjata rongsokan bekas perang yang dibeli secara gelap oleh rakyat !”, tambahnya. Karim dibelakang kemudipun sekali-sekali ikut mengomentari dan membenarkan cerita Benyamin.
Sungguh ironis, bagaimana mungkin kaum Yahudi yang mulanya hanya menguasai 5 % tanah Palestina tiba-tiba bisa mendapatkan hampir 33% tanah kami padahal jumlah mereka hanya kurang dari 10 % total penduduk Palestina. Bahkan seterusnya secara resmi PBB meningkatkan pemberiannya menjadi 60 % ! Sungguh menyakitkan…”, tambah Karim.
Masih belum puas juga, melalui Perang 6 hari , The Sixth Day War, iblis tersebut kini bahkan berhasil merampas Yerusalem dari tangan kami, mencaplok Tepi Barat dari Yordan, Jalur Gaza dari Mesir serta dataran tinggi Golan dari Suriah hingga akhirnya total mereka  menguasai 78 % tanah Palestina ”, sela Benyamin.
Setelah hening beberapa saat, Benyamin kembali berkata, ” Kau tentu pernah mendengar pasukan Intifada kan Mada?”,Pasukan pelempar batu itu, bukan ?”, jawab Mada merasa bersyukur pernah membaca berita tersebut hingga tidak terlihat bodoh. ”Ya…sesungguhnya mereka itu baru ada sejak hak-hak mereka tidak diperhitungkan dunia internasional. Namun seperti yang kau ketahui mereka ini diberitakan  seakan-akan  sebuah kelompok penjahat dan perusuh ”, sambung Karim geram.
Tanpa terasa kami tiba di pos pemeriksaan. Di tempat itu kuamati disamping adanya sejumlah tentara bersenjata, banyak sekali petugas berpakaian sipil dengan senjata di pinggang lengkap dengan kacamata gelapnya. Di depan pintu masuk tergantung spanduk raksasa bertuliskan sebuah nama berbau Islam. Rupanya itu adalah nama seseorang yang sedang dicari pemerintah. Di dalam spanduk tersebut dicantumkan sejumlah besar uang sebagai imbalan bagi orang yang dapat memberikan informasi keberadaan orang yang dicari itu.
Kami bertiga segera turun dari kendaraan. Awalnya koper dan barang bawaankupun diminta untuk diturunkan dan digeledah. Namun berkat perdebatan alot antara Karim yang kudengar berbicara dalam bahasa yang tidak kukenal, kupastikan sebagai bahasa Ibrani, bahasa resminya  orang  Yahudi, dengan pegawai pemeriksaan, akhirnya aku batal menurunkan barang-barangku.
Sebaliknya, ketika aku berdiri dalam antrian pemeriksaan, aku melihat sejumlah koper bahkan beberapa galon berisi  air ikut mengantri. Ternyata barang-barang ini adalah bawaan orang-orang Indonesia dan Malaysia yang kutemui di bandara Queen Alia Amman tempo hari. Dari pembicaraan aku baru tahu ternyata galon-galon itu adalah galon-galon  air zam-zam, oleh-oleh khas haji dari Mekah.
Biasanya, air zam-zam itu urusan bimbingan haji yang memandu para jamaah. Mustinya mereka langsung mengirimnya ke tanah air. Jadi jemaah tidak perlu repot membawanya kesana kemari. Belum nanti kalau bocor…”, keluh pah Thamrin, salah satu jemaah yang mengobrol denganku.
Lagian ngapain air aja pake diperiksa … nyusahin aja..”, timpal jemaah lain yang lebih muda. ”Dasar paranoid..”, sungutnya.” Ya begitulah orang kalau jahat  hobbymya bikin orang lain susah,  bawaannya jadi curiga melulu… Lihat aja, mereka buang-buang waktu meriksa semua orang berkali-kali..kayak kita ini penjahat aja…”, kata jemaah yang berdiri di belakangku geram.
Aku segera mengedarkan pandangan kesekelilingku. Bangunan tak berjendela ini mengingatkanku pada suatu tempat, ntah itu  gudang yang sudah tak terpakai atau stasiun kereta api atau mungkin malah bekas bungker tentara. Dikelilingi tembok tinggi berwarna putih tanpa satupun jendela apalagi  hiasan dinding, bangunan yang disangga beton-beton besar ini mengesankan suasana yang jauh dari nyaman kalau tidak mau dikatakan menegangkan. Untung mereka tidak lupa menyalakan pendingin udara model kuno yang banyak tergantung  di dindingnya itu.
Mataku beralih pada para pegawainya. Setengah terkejut, baru kusadari bahwa semua pegawai di ruangan tersebut adalah kaum hawa. Namun demikian, dengan seragam mirip tentara berwarna khaki lengkap dengan sepatu boot dan pistol di pinggang, penampilan mereka mirip laki-laki. ” Bukan cuma di sini mas… Sejak masuk perbatasan tadipun hampir semua penjaga posnya kan juga perempuan ”, tanggap  pak Thamrin yang berdiri di depanku ketika aku mengomentari hal tersebut.
Hampir dua jam lamanya aku berada dalam keadaan seperti itu padahal antrian tidak terlalu panjang. Selama itu aku terlibat percakapan dengan pak Thamrin. Darinya aku banyak memperoleh pengetahuan baru diantaranya cerita tentang asal muasal air zam-zam. Aku kembali tercengang dibuatnya. Ternyata sejak awal, Islam telah memiliki keterikatan yang erat dengan Ibrahim, nabi yang sering diaku umat Nasrani maupun  Yahudi sebagai penganut agama mereka. Ritual haji yang merupakan kewajiban umat Islam yang mampu adalah sebuah ritual lama yang telah ada sejak nabi tersebut ada.
” Ibrahim adalah kakek moyang ketiga agama besar itu. Ia adalah ayah dari nabi Ismail yang merupakan kakek moyang nabi Muhammad dan  juga ayah dari nabi Ishak yang merupakan kakek moyang nabi-nabi Nasrani dan Yahudi. Dengan kata lain , Ibrahim adalah bapak para nabi. Ia bukan penganut Nasrani maupun Yahudi. Sebaliknya menurut  ajaran Islam, seluruh nabi adalah Islam karena Islam adalah berarti tunduk menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan yang satu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, yaitu Allah. Dialah Tuhannya semua manusia, Tuhan yang menciptakan langit, bumi dan seluruh isinya”, begitu pak Thamrin memberi penjelasan kepadaku.
Tanpa kusadari aku melirik Benyamin. Ia berada dalam antrian khusus untuk warga Arab Palestina sambil santai membaca buku. Pasti ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, pikirku. Beberapa lama kemudian setelah akhirnya lolos pemeriksaan, aku mendengar keluhan beberapa jemaah haji. Mereka mengeluh  bahwa teman-teman mereka yang mempunyai nama berbau Islam dan umurnya masih dibawah 30 tahunan ternyata dipersulit. Mereka bolak balik harus keluar masuk ruangan pemeriksaan. Aku dengar tamu-tamu dari Malaysia nasibnya lebih sial lagi. Mereka ditolak masuk negri tersebut bahkan tanpa pemeriksaan sama sekali!
Itu karena Malaysia dianggap sebagai negara yang sama sekali tidak  menunjukkan dukungan terhadap berdirinya negara Israel ini”, kata pak Thamrin menjelaskan ketidak mengertianku.
Lebih dari itu, para pemimpinnya bahkan jelas-jelas mengutuk dan memusuhi  segala sesuatu yang berasal dari negri terkutuk ini. Ngga kayak negri kita  yang plintat plintut. Katanya  tidak mendukung…  tapi bersikap keras juga tidak”, katanya lagi dengan nada skeptis.
Ya, betul. Tapi kali ini kita diuntungkan..makanya kita diperbolehkan masuk kesini walaupun juga dipersulit”, seseorang di belakangku menimpalinya.
Memasuki jam ketiga, aku, Benyamin dan  Karim  sudah  berada kembali di dalam kendaraan menuju Yerusalem. Cuaca ketika itu cukup cerah. Suhu udara sekitar 30 derajat Celcius hampir sama dengan Jakarta. Kami memasuki pegunungan pasir berbatu. Sebuah pemandangan yang menakjubkan sekaligus membuat hati miris. Makin lama makin jelas terlihat gubuk-gubuk yang begitu sederhana di daerah kering kerontang tersebut. Terlihat sejumlah kambing kurus berkeliaran diantara gubuk-gubuk itu.
” Gubuk-gubuk itu milik pengungsi orang-orang Afrika. Aku tak tahu mengapa mereka memilih daerah seperti ini. Mungkin karena keadaannya mirip dengan keadaan daerah asal mereka”, jelas Karim menjawab keherananku atas keberadaan gubuk-gubuk tersebut..
Lihat!”, seru Benyamin sambil menunjuk ke suatu tempat jauh di atas bukit. ” Tenda-tenda besar  itu adalah tenda-tenda pengungsi rakyat Arab Palestina yang tadi aku ceritakan ”, kata Benyamin. Sayangnya aku tidak berhasil mencermati keberadaan tenda yang dimaksudnya tersebut karena terlalu jauh dari pandangan.
Ketika Karim melalui suatu kelokan tajam menanjak tiba-tiba mataku menangkap suatu kilatan di balik bukit. Aku segera memperhatikan kilatan tersebut. ” Wow..”, seruku takjub mengagetkan dua orang disampingku. ”Itu kubah emas  The Dome Of The Rock bukan? ”, tanyaku untuk meyakinkan sambil mengarahkan kameraku ke sasaran.
Atas permintaanku, mobilpun berhenti sejenak. Angin segar segera menerpa wajahku. Udara ternyata cukup dingin mungkin sekitar 24 derajat Celcius.  Dari kejauhan terlihat            kubah itu berada di pelataran yang dikelilingi tembok bata merah besar layaknya sebuah benteng raksasa. Didalam benteng kuno tersebut terlihat dua buah kubah. Yang pertama adalah kubah kuning keemasan The Dome Of The Rock atau  Kubah Batu.  Bangunan ini berada di sayap timur agak sedikit ke bagian tengah .  Sedang yang satu lagi adalah kubah abu-abu  Masjid Al-Aqsho’ yang berdiri di ujung sebelah  barat  kawasan tersebut.
Diantara kedua kubah tersebut tampak adanya pelataran luas dengan taman dan pepohonannya yang rindang. Disana sini tampak beberapa kubah kecil yang indah. Sementara diantara aku berdiri dengan kawasan tersebut terbentang lembah yang ditanami pepohonan. Dari Karim aku tahu bahwa pelataran tersebut terletak di  sebuah bukit yang diberi nama bukit Zion sementara tempatku berdiri bernama bukit Zaitun.
Ini yang dinamakan ” The Old City of Yerusalem ” alias kota tua,” jelas Benyamin. ” Tempat ini adalah tempat paling bersejarah bagi kehidupan keberagamaan  di muka bumi. Tiga agama terbesar di muka bumi yaitu Nasrani, Islam dan Yahudi saling mengklaim bahwa mereka adalah yang paling berhak atas  kota tua ini. Sekarang ini Yerusalem dibagi menjadi 4 distrik sesuai agama masing-masing. Distrik Islam terletak di bagian Timur Kubah Batu, distrik Nasrani menempati bagian dimana gereja Makam Kudus berada, orang-orang Yahudi menempati daerah sekitar tembok ratapan di sebelah barat Kubah Batu. Sementara diantara pemukiman  Yahudi dan Nasrani terletak pemukiman Armenia”, lanjut Karim.

 

“ Kota tua yang berada di sebelah timur Yerusalem sekarang ini  dikelilingi sebuah tembok sepanjang kurang lebih 4 kilometer dengan 14  pintu gerbang dan 34 menara namun hanya beberapa pintu yang masih berfungsi”, sambung Benyamin.
Rasanya aku sudah  tak sabar untuk mendekati dan memasuki pelataran tersebut. Setelah puas mengambil gambar dan menikmati segarnya udara perbukitan kamipun meneruskan perjalanan. Sayang baik Benyamin maupun Karim tidak mengabulkan keinginanku untuk segera mengunjungi kubah-kubah tersebut. Mereka ingin agar aku istirahat  di  rumah dulu. Disamping kedua orangtua Benyamin memang telah menanti kedatanganku. Aku pikir alasan tersebut sangat masuk akal. Aku jadi malu sendiri dibuatnya. Aku merasa seolah tidak memiliki sopan-santun. Maka segera aku meminta maaf atas kelakuanku itu.
”No. It’s okay. I can understand. If I were you I think I’ll do the same thing. But don’t worry. You  have a lot of time”, kata Benyamin menghibur.
Keluarga Benyamin bukan saja  keluarga kaya raya namun juga terhormat dan terpelajar. Ayahnya adalah seorang dokter spesialis tulang.  Walaupun cukup ramah namun ia bukan tipe orang yang banyak  bicara. Ketika aku tiba di rumah ia sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ia sempat meminta maaf padaku karena tidak dapat mengajakku mengobrol. Perawatnya baru saja menelpon mengabarkan bahwa ia telah ditunggu beberapa pasiennya di rumah sakit. Sedangkan ibu Benyamin adalah  seorang perempuan yang ramah dan terlihat senantiasa menjaga penampilan. Ia mengajakku mengobrol tentang keluargaku dan keadaan di Indonesia.
***

Seberkas Cahaya di Palestina (4/14) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Pengagum Wanita

2 komentar:

  1. Menarik untuk disimak bagaimanakah kelanjutannya... :)

    BalasHapus